Rabu, 29 September 2010

Masa Kecil

Inong berlari hendak memeluk ayahnya, tapi sebelum ia sampai dipelukan, sang ayah memalingkan wajahnya ketika seorang anak buahnya memanggil hendak melaporkan pekerjaan.
"Pak Haji.., eta Hartop teh kudu turun mesin" katanya dengan logat sunda yang kental, sambil menunjuk mobil Jeep Hartop tahun 70 an warna coklat yang sudah kusam.
" Eleuuh..., maneh geus cek can kabeeh?..(kamu sudah cek semua belum?)" jawab ayah Inong yang langsung berdiri tanpa memperdulikan Inong yang hampir saja sampai di hadapannya.
Pak Haji langsung melangkahkan kakinya menuju Hartop itu, tapi sejenak dia menoleh ke Inong,
"Inong sama Mang Khoer dulu yaa...digendongnya.."
Mang Khoer menghampiri Inong yang tertunduk kecewa " Ayo sini ku mang khoer digandong" sambil berjongkok pemuda perawakan kurus belakangi Inong (ia pengasuh setianya). Inong hanya diam sambil melingkarkan tangannya ke leher mang Khoer, matanya tidak terlepas dari Ayahnya yang kian hari kian sibuk saja. Usaha bengkel mobil Haji Ujang memang sudah terkenal di wilayah jalur puncak, jalur yang ramai wisatawan.
Orang tua Inong termasuk orang yang sangat dipandang dan berkecukupan kala itu. Mobil angkotnya aja ada 6, selain bengkel mobil, Ayah Inong juga memiliki bengkel las ketok karyawannya ada 22 orang, termasuk supir angkotnya.

Esok hari yang cerah, seperti biasa Inong sudah siap pergi ke sekolah. Ia baru TK nol besar. Di dapur ibu telah siapkan sarapan kesukaan Inong (ssst...nasi goreng terasi.. hi.hi. :)
"Ayo Nong sarapan dulu ya..." ucap wanita paruh baya itu penuh kasih sayang, "khoer ngkin antosan Inong nyak?..soalna ieu kan dinten jumaah, jadi enggal uihna" perintah ibu kepada anak muda pengasuh Inong yang harus menunggunya di sekolah karena hari jumat Inong pulang cepat. " Enya...Ceu Hajiii...bereees deeh..." sambil ngacungin jempol.
tapi tidak lama Ayahnya datang..," Inong sama bapak aja ya..perginya?, hari ini bengkel kan libur, jadi bapak bisa antar Inong ke sekolah", Inong melompat gembira "Horeee...bapak yang anteeer..iya2 Inong mauuu", akhirnya keluar juga suara Inong yang dari kemarin masih menyimpan kecewa karena tidak jadi digendong ayahnya.

Di dalam Mobil Golden hijau pupus tahun 70 an, Inong gembira sekali karena diantar sang ayah dengan mobil kebanggaannya. Sesampainya di sekolah sang ayah hanya mengantar sampai pintu gerbang sekolah. "Naaah Inong sekolah dulu ya... nanti bapak jemput lagi" katanya sambil mengusap rambut Inong . Kemudian dia pun berlalu menuju mobilnya yang diparkir di halaman, sejenak menoleh ke arah Inong yang sudah membaur dengan teman-temannya, ia tersenyum melihat anak perempuannya hari ini gembira sekali.

Siang itu Inong agak cemas menunggu ayah yg akan menjemputnya pulang sekolah, satu persatu teman Inong telah diemput wali mereka masing-masing. Tak lama kemudian suara khas klakson mobil Inong terdengar dari jauh. Hati Inong senang sekali karena ayah telah datang untuk menjemputnya pulang. Sepanjang jalan ia tidak akan melupakan bahwa hari ini sangat bahagia sekali karena perhatian ayah tercurah pada Inong

Dari minggu ke minggu Inong selalu menunggu hari jum'at yang terasa special karena ayah pasti mengantarnya untuk sekolah. Kali ini ada yg lain pada saat pulang sekolah. Ayah menjemput Inong tidak sendiri. Tapi ia ditemani seorang perempuan yang hampir seusia ibunya tapi ia lebih kelihatan modern dengan dandanannya. Putih wajahnya pancarkan kecerian hari itu menandakan ia pandai merias diri, dengan rona pipi yang merona.
"Inong, Ayo pulang bersama tante Ai.." kata Ayah..secara tidak langsung memperkenalkan namanya. "Beri salam pada tante Ai.." belum hilang tanda tanya dalam hati Inong Pak Haji sudah menyuruh Inong untuk mencium tangan perempuan itu tanda hormat.
Di dalam mobil Inong agak sedikit canggung karena perempuan itu duduk di depan dan ia duduk di belakang. Sepanjang jalan mereka bercakap-cakap seperti tidak menghiraukan adanya Inong. Ada pertanyaan di hati Inong, siapakah tante Ai ini?..



Jumat, 24 September 2010

Perjalanan

Dalam diam kurenung, rasakan pilu dan sesal tiada ujung...
Andaikan waktu dapat diulang, aku akan kembali pada saat ia datang
dengan kasih karena-NYA, dengan cinta karena-NYA

Sosok alim yang kutolak, buat hidup terasa pelik..
kuberjalan di padang gersang..., sendiri,...panas.. peluh...dan resah tiada henti..
Berjuang meraih ketentraman bathin menuju takwa.......
aku sendiri .....

Segala persaan berkecamuk dalam dada, semua bercampur aduk hingga mulai pada satu titik Inong ingin memilah-milahnya menjadi bagian dari renungan yang positif.
Dari mulai penyesalan, pelajaran hingga hikmah yang dapat dipetik dari semua yang terjadi pada hidupnya.